
Salah satu jasa terbesar DJong A San untuk kampung Jalan Laut adalah membawa bibit jeruk dari Tiongkok ketika pertama kali migrasi ke Bangka dari Thong Shan Tiongkok. Sehingga bibit jeruk yang dia bawa dari negeri leluhurnya tumbuh dan mnyebar keseluruh kampung dan juga keseluruh kota Sungailiat. Sayang sekali setelah beberapa dekade, akhirnya jeruk yang dinamakan dengan jeruk Djong A San itu , atau jeruk Tu Chi ( Puser -Naval Orange ) akhirnya punah dan tak ada bibit baru yang bisa di rasakan oleh generasi sekarang.
***
Generasi yang lahir sebelum tahun 1970-an masih mengenal dan masih bisa merasakan nikmat dna manisnya jeruk Djong A San yang sampai terkenal ke Jakarta karena beberapa orang yang berasal dari kampung ini membawa ke Jakarta ketika mereka balik dari pulang kampung.
***
Kini jeruk itu tak dapat ditemui dimanapun. terakhir pernah ada usaha untuk membudidayakan oeh Bong Men Chun tapi tak berhasil dan buahnya asam tak semanis buah yang dulu. Sayang memang.
***
Djong A San menikah dengan seorang perempuan bernama A Cik yang memiliki keturunana sebagai berikut :
Djong Mie Cin menikah dengan Akhoen yang di karunia dengan anak-anak sebagai berikut : Akhiong yang akrab dipanggil dengan sebutan Jowo dan 5 aadik laki2 yang lainnya serta 1 orang putri.
Djong A Kho
Djong A Kiat
***
Ketika pulang akhir February 2008, rumah ini nampaknya akan segera di renovasi mengikuti rumah-rumah yang lainnya. Salah satu faktor rumah-rumah tua di Kampung Jalan Laut kebetulan masih bertahan hanyalah karena faktor finansial. Umumnya hampir semua rumah tua mengalami nasib yang sama, di hancurkan untuk direnovasi bila keluarga sudah mampu secara finansial. Bila tidak rumah bersejarah di sana tetap " terpelihara " seperti apa adanya . Termasuk rumah Djong A San ini juga.
***
Rumah ini berhadapan dengan rumah Keluarga Liu Kang Jit. Dulu kanan dan kiri samping rumah ini tumbuh beratus pohon jeruk Naval orange-jeruk puser yang tiada tandingan enaknya. Kini hutan kecil samping rumah ini sudah berdiri rumah Jowo dan rumah adiknya Jowo bernama A Teng.
***
Rumah ini telah menjadi tempat nongkrong beberapa generasi anak-anak kamupung. Dari generasi tahun 1970-an sampai generasi tahun 1980-an yang menjadi generasi kami, tiap malam tak pernah lewat kami ngumpul , nongkrong dan ngerumpi sampai larut malam. Rumah ini di berandanya dulu ada sebuah dipan kayu yang menghitam karena termakan usia danjuag karena banyaknya yang tidur-tiduran di sana etipa malam, betul-betul setiap malam, tak ada yang absen. Anak-anak kampung menjadi rumah ini sebagai markas untuk merencanakan, menjalankan , dan juga membicarakan kegiatan-kegiatan nakal kanak-kanak kampung
***
Setelah berangkat kuliah ke Jakarta, generasi tahun 1990-an menjadinya tempat ini sebagai tempat nongkrong yang sama. Beberapa aku pulang ke Jakarta selepas krisis 1998-an menjelang tahun 2000-an, masih terlihat anak-anak kampung nongkrong. Sementara dipan reyot di beranda depan masih terlihat. Sendiri. Kespian. Dipan tua reyot yang menjadi saksi salah satu sudut Kampung jalan Laut
***
Kini di akhir masa 2000-an , tempat ini telah jadi terlantar dan sebuah baru di bangun disebelah rumah tua ini oleh Buteng-adik Jowo .Bulan February ketika aku pulang,. bunyi band berdentum-dentum sampai larut lama. Beberapa orang tua kampung mungkin nampak terganggu. Tapi jaman bergerak kedepan. Banyak yang berubah. Kadang menghilangkan kenang-kenangan masa lalu. Terlindas dan lampus. Benar kata seorang pakar masa lalu Jakarta Heuken, yang berucap dengan sedih : " kampung tanpa rumah tua yang tersisa , seperti orang hidup tanpa ingatan ".Hidup tanbpa sejarah.
Kampung yang kehilangan masa lalunya, mirip memang kampung zombi, hidup , bergerak , bersuara tapi tanpa jiwa.
***
Maret 2008