Monday, March 24, 2008

Rumah Keluarga Tjung Sin Tjhoi-Ban Kim

Rumah ini nampak mulai reyot mungkin karena tak lagi dihuni karena rumah baru dibelakangnya ( terlihat sedikit warna putih) sudah menjadi tempat tinggal baru untuk penghuninya. Ini adalah rumah tua peninggalan Tjung Sin Tjhoi. Beliau adalah adik laki-laki dari Tjung Kie Nyong yaitu istri Liu Jau Khie. Jadi Tjung Sin Tjhoi memanggil kakak ipar kepada Liu jau Khie yang menikah dengan kakak perempuannya.
***
Tjung Sin Tjhoi dikenal sebagai dukun besar di kampung Jalan Laut dan memiliki gelar sebutan Ban Kim . Nama yang jarang sekali disebut orang pada waktu dia telah meninggal karena kuatir tulah.
***

Jakarta, 24 Maret 2008

Thursday, March 20, 2008

Rumah Tjung A Nyong -Thai Jie Pho Ca Lo

Tak tahu juga mengapa orang kampung memanggil wanita yang bernama Tjung A Nyong ini sebagai Calo. Karena Calo adalah sejenis makanan lautan yang terbuat fermentasi nener atau udang-udang kecil yang di asinkan lalu di simpan hingga terbentuk fermentasi yang berbau khas anyir tapi enak di makan dengan lalapan daun muda atau juga dibikin semacam rempeye dengan mencapaurkan gandum dan sagu lalu di goreng.
***
Wanita yang bernama asli A Nyong ini adalah adik bungsu dari Tjung Kie Nyong, istri Liu Jau Khie, A Thai Kung kami dari garis Mama Liu Na Nie , ayah dari Liu Kang Jit. Wajah wanita ini sangat samar-samar kami kenal. Aku kira sewaktu kecil beliau masih hidup dan tinggal seorang diri di hari tua nya. Anak-anaknya sudah merantau dan hijrah ke Jakarta semua. Tak ada satupun yang kuingat anggota dari keluarga ini.
***
Rumah ini kosong beberapa lama. Banyak juga anggota keluarga dari orang kampung yang pernah menyewa dan menempati rumah ini. Salah satu penyewa ataupun penghuni terlama mungkin adalah keluarga A Fen Adoi dan istrinya Yan Yan. A Fen Adoi adalah cucu dari garis keturunan Liu Chit. Sedangkan Liu Chit adalah anak keempat dari Liu A Piang dan Jun Moi.
***
Nama Liu Chit bagi orang kampung Jalan Laut adalah nama sebuah tanjakan menuju ke kampung lama. Terletak di depan rumah A Mui. Rumah A Mui dulu adalah rumah Liu Chit yang kemudian di jual dan dibeli oleh keluarga A Mui. Kini tanjakan itu sudah rata oleh asapal jalan. Ketika kami kecil tanjakan adalah sebuah tanjakan yang menjadi titk penting yang menentukan. Karena tanjakan ini -Song Liang Liu Chit orang kampung namakan -sangat seram dan menakutkan, karena dipenuhi oleh pekuburan tua yang terhampar depan , kiri dan kanan jalan menuju kampung baru.
***
Sebelum jalan aspal yang sekarang ada, kami biasanya pulang melewati samping rumah Liu Ten Fu yang gelap karena listrik tak ada dan strongking sudah lama padam, lalu mesti melewati rumah kosong Ngong Hak yang membuat bulu kuduk berdiri. Setelah itu baru ada terahg dari kampung setelah melewati rumah Liu Sin Tong. Sementara rumah Thai Jie Pho Calo gelap dan kosong.
***
Dulu di samping kanan rumah tua ini di bagian depan , ada sebatang pohon cempedak yang sangat tinggi , besar dna rimbun dan berbuah sepanjang tahun tapi sayang sekali buah-buahnya tak banyak yang bisa di makan, karena lebih bayak membusuk dan rusak oleh hama lalat dna tikus. Lalu jatuh tak pernah dapat dimakan. Sehingga di lantai tanah sekitar pohon cempedak itu menjadi snagat kotor oleh buah cempedak yang berhamburan rusak.
***
Tahun 2000-an rumah ini dihuni oleh Liu Men Fai ( A Khiu Bong Ang ) anak laki-laki pertama Liu Kang Jit dari istri Lim A Tik atau anak laki-laki ke lima dari semua keturunan Liu kang Jit. Liu men Fai pindah ke rumah ini setelah beberapa tahun sempat kosong dan menjadi terlantar. Rumah ini dulu sempat menyeramkan karena tak berpenghuni sekian tahun.
***
Rumah yang diperkiraan berumur sama dengan rumah tua di kampung baru ini terletak tepat dibelakang rumah Liu Sin Tong. Dulu di depan rumah tua ini ada sebatang pohon rambutan milik keluarga Liu Sin Tong. Tumbuh tinggi dan rimbun. Buahnya lumayan enak dimakan dan manis tapi saking tingginya terkadang kami takut juga untuk naik ke atasnya. Terlalu garing. Sudah rapuh.
***
Rumah yang sudah berumur lebih dari 50-an tahun ini walaupun nampak tua dan rentah tapi kelihatan kuat dan tak renyot. Papan-papan depannya masih nampak bagus dan tak ada rayap. melihat dari fisiknya, nampaknya rumah ini tetap akan bertahan lebih lama dari satu dekade lagi.
***
Cibubur , 20 Maret 2008

Saturday, March 15, 2008

Rumah Keluarga Bong Kong Lie

Bila tak ada hal-hal yang bersifat mendasar dari pendirian rumah ini, maka rumah ini pasti menjadi yang ketiga tertua setelah rumah keluarga Liu A Piang dan keluarga A Sin. Rumah ini mungkin tak banyak mengalami perubahan. Letaknya yang berada di belakang kampung membuat rumah ini jarang dikunjungi oleh orang kampung. Dan terletak agak jauh ke dalam . Dari struktur dan arsitek bangunan maka bangunan ini memiliki gaya limas berbeda dengan yang kedua memiliki bentuk gaya atap gudang. Arsitektur ini mungkin warisan dari kenangan tanah leluhur mereka di Mei Xian , district Mei Chouw sekarang ini, ketika mereka berangkat merantau hampir 200 tahun yang lalu.

***
Luar biasa juga rumah tua ini bisa bertahan selama ini. Untungnya tak banyak derah jaman yang menggempur rumah ini. Di dinding depan rumah ini terpampang nama sang pendiri dan juga nama sang pemilik rumah , Bong Kong Lie dalam tulisan Indonesia. Keluarga ini menurunkan keluarga sebagai berikut :
  1. Bong Chen ,lelaki yang menjadi pelaut dan tak memiliki keturunan .Kabar terakhir mengenai Bong Chen , beliau telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu , akibat sakit menahun dan juga karena usia tua di rumah tua ini juga.
  2. Bong Sem
  3. Bong Kuan
***
Mengenai rumah tua ini bila kita amati dengan seksama, maka ciri utama dan khas rumah -rumah tua di kampung lama adalah jumlah tiang soko guru yang menopang yang selalu berjumlah 4 buah. Tapi bila kita lihat rumah yang lebih muda di kampung baru Jalan Laut maka perbedannya menjadi menarik karena rumah-rumah tua dari masa yang lebih muda memiliki jumlah tiang soko guru yang berbeda-beda , ada yang memiliki 3 buah buah tiang seperti rumah keluarga Djong A San, dan ada juga yang memiliki 2 di 2 buah tiang soko guru seperti rumah keluarga Phan Bong Sin , dan bahkan lebih ektrem tanpa tiang soko guru sama sekali seperti rumah keluarga Liu Kang Jit.
***
Sebelumnya rumah ini kosong tak berpenghuni. Karena semua keluarga dari keturunan Bong Kong Lie telah memiliki rumah masing-masing. Di kanan kiri rumah ini, pohon-pohon bambu yang dulunya rindang dan lebat kini telah ditebangi dan membuat suasana menjadi agak terang dan gersang.
***

Rumah Keluarga A Sin

Rumah ini letaknya berdampingan dengan rumah keluarga Liu A Piang yang kini ditempati oleh Liu Ten Chong, hanya berjarak sekitar 10 meter di sebelah kanan dari rumah keluarga A Sin ini. Rumah ini praktis hanya ditempati oleh seorang wanita tua kakak perempuan A Sin yang kini tinggal tak berapa jauh dari rumah ini dengan berdagang toko klontongan.
***
Kondisi rumah ini ketika bulan February 2008 masih terlihat baik walaupun terasa agak mulai condong dibagian depan. Dibandingkan dengan keluarga Liu A Piang , maka kondisi rumah ini jauh lebih buruk kondisinya, salah satu mungkin kurang terawat dan tak ada penghuni yang aktif seperti rumah Liu Ten Chong.
***
Belum banyak data mengenai keluarga besar ini. Mengenai keturunan mereka siapa saja keluaraga dan siapa saja nenek moyang pendiri rumah ini.
***maret  2008

Rumah Keluarga Liu A Piang



Inilah rumah tertua yang ada di Jalan Laut dan yang masih tersisa dari gempuran jaman. Dan juga menjadi rumah terua dengan wujud aslinya yang hampir tak banyak mengalami perubahan. Setelah di derah oleh perubahan jaman Jalan Laut paling tidak masih memiliki satu catatan penting sebagai penanda bahwa kampung ini dulunya adalah sebuah kampung yang makmur sejak dulu , sejak jaman Belanda dan jaman Tin rush ( Perburuan Tambang Timah ).
***
Diperkirakan rumah ini didirikan sekitar tahun 1870-an, karena kini keluarga Liu yang tinggal dirumah ini sudah tiba pada generasi ke 5. Bila tiap generasi memiliki rentang waktu untuk tumbuh dan berkembang sekitar 25-30 tahun maka rumah ini paling tidak telah berumur 140-150 tahun. Tapi sayangnya tak ada angka tahun pasti karena sumber pertama telah lama meniggal dunia. Dan orang-orang kampung dari generasi yang mungkin sedikit banyak mengetahui asal-usul kampung juga tak ada lagi yang tersisa.

***
Generasi pertama adalah pendiri rumah ini yang bernama Liu A Piang menikah dengan Jun Moi dengan keturunan generasi kedua Liu Jau Khie , Liu Chit dan Liu A Bang, dan satu lagi anak laki-laki yang menjadi asal keluarga Liu yang menempati rumah ini kini.
***
Liu Jau Khie melahirkan keturunan yang sekarang beranak pinak di kampung ini, salah satu adalah Liu Kang Jit yang menjadi pemilik rumah di kampung Jalan laut Baru. Liu Kang Jit adalah generasi ketiga dari Marga Liu keturunan Liu A Piang dari laki-laki bernama Liu Jau Khie.
***
kini rumah ini ditempat oleh keluarga Liu Ten Chong yang tinggal dengan istri keduanya setelah istri pertamanya meninggal dunia berpuluh tahun yang lalu. Liu Ten Chong memiliki kakak laki-laki bernama Liu Ten Fu. Mereka adalah putra dari Liu Kap Hin yang memiliki saudara bernama Liu Kap Hie. Ini adalah generasi ke tiga dari Marga Liu di Jalan Laut.
***
Semoga rumah ini tetap berdiri seperti ini. Beberapa waktu lalu sepulang ke Jakarta, saya telah memberikan gambaran kepada Liu Ten Chong betapa pentingnya rumah tua ini bagi Marga Liu dan juga bagi sejarah kampung. Saya memohon agar rumah ini tak direnovasi ataupun di bongkar. Liu Ten Chong mengatakan tak ada keinginan itu lagi pula mereka tak memiliki kemampuan ekonomi untuk membangun rumah baru.
***
Demi kepentingan historis bagiku mungkin ini sebuah berkah tapi bisakah kita berharap banyak..Jaman brubah dan semua keluarga ingin terlihat hidup lebih mewah dengan membangun rumah beton dan mengorbankan rumah rumah tua tanpa ampun. Nilai sejarah akan kalah dengan kekinian.
***


Inilah sebuah gejala umum yang timbul dan terjadi di kampung Jalan Laut yang menjadi representative generasi muda Tiongha di seluruh tanah air. Sebuah gejala tentang hilangnya sebuah etnis Tionghoa keturunan yang berpuluh dekade nanti akan menjadi sebuah masyarakat creole yang mengatakan diriya Tionghoa tapi tanpa nama Tionghoa dan tentu saja tak bisa bisa berbahasa Tionghoa sama sekali, yang menurutku inilah sebuah cara lembut dan canggih tentang sebuah etnic cleansing yang tak perlu dengan senjata dan kekerasan. Inilah mungkin warisan Soeharto sebagai diktator pada jaman orde baru dulu.
***
Hilangnya sebuah masyarakat yang unik dengan ragam Tionghoanya yang tentu saja sudah menjadi sebuah masyarakat Creale. Campurana dan hybrida. Jalan Laut akan menjadi Jalan Laut yang kehilangan sejarahnya dan Hoi Sun Lu akan hilang selama-lamanya.
***
Dua dekade yang lalu perkataan Hoi Shun Lu masih sering terdengar dalam pembicaraan tentang tempat mereka tinggal dan nama kampung mereka, kini nama itu hilang dari kosa kata anak-anak muda di sana. Dan orang-orang tua mereka sudah lupa bahwa dulu nama kampung mereka adalah Hoi Shun Lu, Sebuah Jalan Tepi Laut.




















Rumah Keluarga DJong A San

Salah satu jasa terbesar DJong A San untuk kampung Jalan Laut adalah membawa bibit jeruk dari Tiongkok ketika pertama kali migrasi ke Bangka dari Thong Shan Tiongkok. Sehingga bibit jeruk yang dia bawa dari negeri leluhurnya tumbuh dan mnyebar keseluruh kampung dan juga keseluruh kota Sungailiat. Sayang sekali setelah beberapa dekade, akhirnya jeruk yang dinamakan dengan jeruk Djong A San itu , atau jeruk Tu Chi ( Puser -Naval Orange ) akhirnya punah dan tak ada bibit baru yang bisa di rasakan oleh generasi sekarang.
***
Generasi yang lahir sebelum tahun 1970-an masih mengenal dan masih bisa merasakan nikmat dna manisnya jeruk Djong A San yang sampai terkenal ke Jakarta karena beberapa orang yang berasal dari kampung ini membawa ke Jakarta ketika mereka balik dari pulang kampung.
***
Kini jeruk itu tak dapat ditemui dimanapun. terakhir pernah ada usaha untuk membudidayakan oeh Bong Men Chun tapi tak berhasil dan buahnya asam tak semanis buah yang dulu. Sayang memang.
***
Djong A San menikah dengan seorang perempuan bernama A Cik yang memiliki keturunana sebagai berikut :

  1. Djong Mie Cin menikah dengan Akhoen yang di karunia dengan anak-anak sebagai berikut : Akhiong yang akrab dipanggil dengan sebutan Jowo dan 5 aadik laki2 yang lainnya serta 1 orang putri.
  2. Djong A Kho
  3. Djong A Kiat
***
Ketika pulang akhir February 2008, rumah ini nampaknya akan segera di renovasi mengikuti rumah-rumah yang lainnya. Salah satu faktor rumah-rumah tua di Kampung Jalan Laut kebetulan masih bertahan hanyalah karena faktor finansial. Umumnya hampir semua rumah tua mengalami nasib yang sama, di hancurkan untuk direnovasi bila keluarga sudah mampu secara finansial. Bila tidak rumah bersejarah di sana tetap " terpelihara " seperti apa adanya . Termasuk rumah Djong A San ini juga.
***

Rumah ini berhadapan dengan rumah Keluarga Liu Kang Jit. Dulu kanan dan kiri samping rumah ini tumbuh beratus pohon jeruk Naval orange-jeruk puser yang tiada tandingan enaknya. Kini hutan kecil samping rumah ini sudah berdiri rumah Jowo dan rumah adiknya Jowo bernama A Teng.
***
Rumah ini telah menjadi tempat nongkrong beberapa generasi anak-anak kamupung. Dari generasi tahun 1970-an sampai generasi  tahun 1980-an yang menjadi generasi kami, tiap malam tak pernah lewat kami ngumpul , nongkrong dan ngerumpi sampai larut malam. Rumah ini di berandanya dulu ada sebuah dipan kayu yang menghitam karena termakan usia danjuag karena banyaknya yang tidur-tiduran di sana etipa malam, betul-betul setiap malam, tak ada yang absen. Anak-anak kampung menjadi rumah ini sebagai markas untuk merencanakan, menjalankan , dan juga membicarakan kegiatan-kegiatan nakal kanak-kanak kampung
***
Setelah berangkat kuliah ke Jakarta, generasi tahun 1990-an menjadinya tempat ini sebagai tempat nongkrong yang sama. Beberapa aku pulang ke Jakarta selepas krisis 1998-an menjelang tahun 2000-an, masih terlihat anak-anak kampung nongkrong. Sementara dipan reyot di beranda depan masih terlihat. Sendiri. Kespian. Dipan tua reyot  yang menjadi saksi salah satu sudut Kampung jalan Laut
***
Kini di akhir masa 2000-an , tempat ini telah jadi terlantar dan sebuah baru di bangun disebelah rumah tua ini oleh Buteng-adik Jowo .Bulan February ketika aku pulang,. bunyi band berdentum-dentum sampai larut lama. Beberapa orang tua kampung mungkin nampak terganggu. Tapi jaman bergerak kedepan. Banyak yang berubah. Kadang menghilangkan kenang-kenangan masa lalu. Terlindas dan lampus. Benar kata seorang pakar masa lalu Jakarta Heuken, yang berucap dengan sedih : " kampung tanpa rumah tua yang tersisa , seperti orang hidup tanpa ingatan ".Hidup tanbpa sejarah.

Kampung yang kehilangan  masa lalunya, mirip memang kampung zombi, hidup , bergerak , bersuara tapi  tanpa jiwa.
***
Maret 2008

Rumah Keluarga Boen Nam Pok ( Adi Boenadi )

Ini adalah rumah keluarga Boen Nam Pok. Rumah ini berdiri tepat di depan rumah keluarga Phan Men Tjan. Boen Nam Pok berasal dari kota Pangkal Pinang . Beon Nam Pok menikah dengan Cung Moi Ci ( A Ci' ) yang memberikan keturunan sebagai berikut :
  1. Boen Mie Tik menikah dengan Chin Muk Choi ( Liu Ngian-Ngian ) yang merupakan anak kandung Liu Kang Jit yang di adopsi oleh keluarga Chin.
  2. Boen Khun San menikah dengan orang luar Jalan Laut,
  3. Boen Mie Lon menikah dengan A Ciong dan menetap di Jalan Laut dengan berkebun sayur di belakang kampung.
  4. Boen Khun Kwet menikah dengan orang luar Jalan Laut , kini tinggal masih di Bangka
  5. Boen Khun Tet menikah dengan orang luar Jalan Laut , kini menetap di Jalan Laut
  6. Boen Mie Sung menikah dengan Phan Tjin Loy dari anak laki-laki dari keluarga Phan Men Tjan
  7. Boen Mie Chun menikah dengan orang asal Belitung
  8. Boen Mie Siat menikah dengan orang asal Palembang
***
Maret 2008.

Sunday, March 9, 2008

Rumah Keluarga Liu Kang Jit ( Abdul Madjid )


Diantara banyak rumah di kampung Jalan Laut hanya rumah Liu Kang Jit -lah satu-satunya yang tak memiliki beranda depan . banyak rumor di kampung mengatakan bahwa rumah seperti ini tak bagus buat fengshui dan tak memberikan kemakmuran. Dan orang kampung menghindariuntuk mendirikan rumah dengan tipe seperti ini. Memang kalau di pandang dari segi tata ruang, maka kalau hujan tempias air akan langsung jatuh ke pintu dan juga membuat papan rumah bagaian depan lebih cepat lembab dan rusak karena air langsung megenai diniding papannya.
***
Rumah ini juga didirikan sejaman dengan pendirian rumah-rumah kampung baru yang pindah akibat bedol desa tahun 1949-1950-an. Daerah ini dulu adalah hutan belantara dan pekuburan.
***
Abdul Madjid adalah nama Indonesia Liu Kang Jit. Lin Kang Jit menikah dengan Miau A Nyoen tahun 1931 dan di karunia 3 orang anak :
  1. Liu Na Nie
  2. Liu Hian Cin
  3. Lian Hian Kin
  4. Liu Ngian-Ngian
Tak lama setelah melahirkan anaknya yang bungsu -Liu Ngian-Ngian, Miau A Nyoen meninggal dunia dan sang bayi yang baru berusia bebepap bulan di adopsi oleh sebuah keluarga Marga Chin di kota Sungailiat.
***
Setelah istrinya pertama meninggal, beberapa tahun kemudian Liu Kang Jit menikah kembali dengan seorang wanita dari dareha Pangkal Pinang pada tahun 1947 bernama Lim A Tik dan di karuniai dengan 4 orang anak sebagaiberikut :
  1. Liu Men Fai
  2. Liu Kon Hin
  3. Liu Na Lu
  4. Liu Na Lie
***
Ketika anak bungsunya Liu Na Lie berumur sekitar 3 tahun, Lim A Tik meninggal dunia karena penyakit lever. Pada tahun 1960 pada umur 36 tahun.
***
Liu Kang Jit kemudian menikah dengan seorang janda beranak 3 bernama Ng A Cit dan tidak memiliki anak kandung dari pernikahan mereka sampai mereka berdua meninggal dunia.
***

Agustus 2008