Saturday, March 15, 2008

Rumah Keluarga Liu A Piang



Inilah rumah tertua yang ada di Jalan Laut dan yang masih tersisa dari gempuran jaman. Dan juga menjadi rumah terua dengan wujud aslinya yang hampir tak banyak mengalami perubahan. Setelah di derah oleh perubahan jaman Jalan Laut paling tidak masih memiliki satu catatan penting sebagai penanda bahwa kampung ini dulunya adalah sebuah kampung yang makmur sejak dulu , sejak jaman Belanda dan jaman Tin rush ( Perburuan Tambang Timah ).
***
Diperkirakan rumah ini didirikan sekitar tahun 1870-an, karena kini keluarga Liu yang tinggal dirumah ini sudah tiba pada generasi ke 5. Bila tiap generasi memiliki rentang waktu untuk tumbuh dan berkembang sekitar 25-30 tahun maka rumah ini paling tidak telah berumur 140-150 tahun. Tapi sayangnya tak ada angka tahun pasti karena sumber pertama telah lama meniggal dunia. Dan orang-orang kampung dari generasi yang mungkin sedikit banyak mengetahui asal-usul kampung juga tak ada lagi yang tersisa.

***
Generasi pertama adalah pendiri rumah ini yang bernama Liu A Piang menikah dengan Jun Moi dengan keturunan generasi kedua Liu Jau Khie , Liu Chit dan Liu A Bang, dan satu lagi anak laki-laki yang menjadi asal keluarga Liu yang menempati rumah ini kini.
***
Liu Jau Khie melahirkan keturunan yang sekarang beranak pinak di kampung ini, salah satu adalah Liu Kang Jit yang menjadi pemilik rumah di kampung Jalan laut Baru. Liu Kang Jit adalah generasi ketiga dari Marga Liu keturunan Liu A Piang dari laki-laki bernama Liu Jau Khie.
***
kini rumah ini ditempat oleh keluarga Liu Ten Chong yang tinggal dengan istri keduanya setelah istri pertamanya meninggal dunia berpuluh tahun yang lalu. Liu Ten Chong memiliki kakak laki-laki bernama Liu Ten Fu. Mereka adalah putra dari Liu Kap Hin yang memiliki saudara bernama Liu Kap Hie. Ini adalah generasi ke tiga dari Marga Liu di Jalan Laut.
***
Semoga rumah ini tetap berdiri seperti ini. Beberapa waktu lalu sepulang ke Jakarta, saya telah memberikan gambaran kepada Liu Ten Chong betapa pentingnya rumah tua ini bagi Marga Liu dan juga bagi sejarah kampung. Saya memohon agar rumah ini tak direnovasi ataupun di bongkar. Liu Ten Chong mengatakan tak ada keinginan itu lagi pula mereka tak memiliki kemampuan ekonomi untuk membangun rumah baru.
***
Demi kepentingan historis bagiku mungkin ini sebuah berkah tapi bisakah kita berharap banyak..Jaman brubah dan semua keluarga ingin terlihat hidup lebih mewah dengan membangun rumah beton dan mengorbankan rumah rumah tua tanpa ampun. Nilai sejarah akan kalah dengan kekinian.
***


Inilah sebuah gejala umum yang timbul dan terjadi di kampung Jalan Laut yang menjadi representative generasi muda Tiongha di seluruh tanah air. Sebuah gejala tentang hilangnya sebuah etnis Tionghoa keturunan yang berpuluh dekade nanti akan menjadi sebuah masyarakat creole yang mengatakan diriya Tionghoa tapi tanpa nama Tionghoa dan tentu saja tak bisa bisa berbahasa Tionghoa sama sekali, yang menurutku inilah sebuah cara lembut dan canggih tentang sebuah etnic cleansing yang tak perlu dengan senjata dan kekerasan. Inilah mungkin warisan Soeharto sebagai diktator pada jaman orde baru dulu.
***
Hilangnya sebuah masyarakat yang unik dengan ragam Tionghoanya yang tentu saja sudah menjadi sebuah masyarakat Creale. Campurana dan hybrida. Jalan Laut akan menjadi Jalan Laut yang kehilangan sejarahnya dan Hoi Sun Lu akan hilang selama-lamanya.
***
Dua dekade yang lalu perkataan Hoi Shun Lu masih sering terdengar dalam pembicaraan tentang tempat mereka tinggal dan nama kampung mereka, kini nama itu hilang dari kosa kata anak-anak muda di sana. Dan orang-orang tua mereka sudah lupa bahwa dulu nama kampung mereka adalah Hoi Shun Lu, Sebuah Jalan Tepi Laut.




















No comments: